Bolehkah, berangkat umroh dengan dana talangan?

Umrah adalah ibadah ritual yang sudah ada syarat dan rukunnya. Kalau pertanyaanya apakah umrah yang dikerjakan sah atau tidak, maka jawabannya tinggal dibalik, yaitu apakah syarat dan rukunnya terpenuhi semua atau tidak.

Mulailah menyisihkan uang dan menabung untuk menunaikan ibadah umroh ataupun haji. Lebih baik bersusah terlebih dahulu daripada susah kemudian, kan? Jadi, kamu ngga akan punya beban sepulangnya dari ibadah untuk melunasi utang dari Bank atau Finance. Tenang saja, kalau sudah waktunya pergi ke tanah suci, dalam keadaan bagaimanapun, Allah pasti akan memberikanmu kesempatan.

Adapun dari mana sumber uang yang digunakan, apakah uang milik sendiri, atau uang milik orang lain, ataukah uang pinjaman, semua itu tidak ada kaitannya dengan sah atau tidak sah. 

Dulu ada pepatah yang bilang: banyak jalan menuju Roma. Sekarang, kita ganti tujuannya menjadi: banyak jalan menuju tanah suci, baik untuk melaksanakan ibadah umroh ataupun haji.

Benar, panggilan ke Baitullah tidak cuma ditujukan bagi mereka yang merasa mampu, tapi juga yang mau berusaha. Apalagi kalau bukan mencari dana untuk perjalanan dan kebutuhan selama di sana. Salah satunya yaitu berangkat umroh dengan dana talangan. Kata lain dari dana talangan ini yaitu meminjam uang dari Bank atau Finance dan dibayar sepulangnya dari ibadah umroh. Menurut sebagian ulama, hukum dana talangan ini dibolehkan asalkan hanya diberikan kepada masyarakat yang mampu membayar kembali dana yang dipinjam.

Pihak bank tentunya tidak bisa sembarangan memberikan dana. Nasabah yang mau berangkat umroh dengan dana talangan harus memiliki penghasilan yang cukup buat membayar cicilannya. Karena sama dengan ibadah haji, calon jemaah umroh harus dikategorikan sebagai orang yang mampu (dalam hal ini adalah biaya). Penerima juga tidak bisa meminjam dana talangan dari sembarangan Bank. Uang yang dipakai harus bebas dari bunga atau riba. Oleh karena itu, biasanya calon jemaah umroh mengajukan permohonan dana talangan ke Bank atau Finance syariah yang bebas dari bunga. Lantas, apakah menggunakan dana talangan ini sama artinya dengan berhutang agar bisa menunaikan ibadah umroh ke Baitullah?

Para ulama sepakat, menggunakan dana talangan untuk pergi ke tanah suci termasuk berutang. Syarat menjadi penerima utang tentunya harus mampu secara finansial, misalnya dengan syarat punya gaji lebih dari cukup, penghasilan yang stabil, mampu melunasi dalam tenggat waktu yang ditentukan. Namun, kalau calon jemaah ngga punya kepastian kapan dan bagaimana caranya melunasi cicilan, maka bank ngga akan memberikan dana talangan tersebut karena belum bisa dikategorikan sebagai orang yang mampu. Nah, daripada memaksakan diri untuk berangkat umroh dengan dana talangan dan ngga sanggup membayar setelahnya, lebih baik kita menunggu sambil terus berusaha sampai benar-benar mampu untuk menunaikan ibadah umroh ataupun haji.

Prinsipnya, kalau semua syarat dan rukun sudah terpenuhi, maka ibadah umrah itu tentu hukumnya sah. Sebaliknya, kalau ada salah satu dari syarat atau rukun yang belum terpenuhi, tentu ibadah umrah itu tidak sah.

  1. Pinjaman Tidak Boleh Melanggar Hukum

Penting untuk digaris-bawahi bahwa tiap pinjaman uang itu biasanya berbuntut bunga yang merupakan riba. Prinsipnya, uang itu boleh dipinjamkan, tetapi tidak boeh disewakan. Maksud dari penyewaan uang itu adalah uang dipinjam tetapi ketika mengembalikan ada semacam biaya penyewaan.

Kalau bahasa mudahnya, uang sewa dari peminjaman uang itu namanya riba. Tetapi di negeri kita, kadang namanya disamarkan dengan berbagai nama dan istilah lain, seperti uang administrasi, bagi hasil, charge ini dan itu, atau apa pun istilah lainnya.

Saya tidak tahu seperti apa skema yang anda lakukan dengan bank syariah, namun kalau prinsipnya penyewaan uang, tentu hukumnya haram.

  1. Jual Paket Umrah Dengan Cicilan

Salah satu alternatif akad yang sah dan tidak mengandung riba yang bisa digunakan adalah akad jual-beli. Dalam hal ini, pihak bank bukan meminjamkan uang, melainkan menjual paket umrah. Dan anda membeli paket itu dari pihak bank, dengan fasilitas mencicil. Maka pihak bank boleh mengambil untung dari penjualan paket umrah itu.

Katakanlah misalnya, biaya paket umrah itu aslinya 15 juta dari pihak travel. Maka bank membeli paket itu dan menjual kepada orang seperti anda. Akadnya adalah akad jual-beli, seperti kita jual-beli sepeda motor. Maka silahkan pihak bank mengambi untung, misalnya harganya dinaikkan menjadi 20 juta.

Fasilitasnya, kita boleh mencicil, misalnya sebulan sejuta.  Maka masa cicilian itu adalah 20 bulan biar genap menjadi 20 juta.

Cara ini adalah cara yang 100% halal dan dibenarkan syariat. Tidak ada unsur penyewaan uang, tidak ada bunga, yang ada adalah akad jual beli yang halal, sebagaimana semua akad jual-beli lainnya.

  1. Skala Prioritas

Mungkin yang akan membedakan nantinya adalah masalah skala prioritas saja. Maksudnya, apakah dengan keadaan yang masih belum terlalu berkecukupan, atau istilahnya dengan pendapatan yang sebenarnya hanya pas-pasan, seseorang layak untuk memaksakan dirinya berangkat umrah, sehingga harus berhutang kesana-kemari?

Jawaban masalah ini sifatnya di luar hukum sah atau tidak sah. Tetapi lebih merupakan tinajauan skala prioritas saja. Khusus dalam urusan ini, kita memang masih menemukan begitu banyak fenomena yang kurang menyenangkan di tengah masyarakat.

Di satu sisi orang berbondong-bondong antri pergi haji, sementara kita masih menemukan orang-orang yang hidup kelaparan di rel kereta dan kolong jembatan. Padahal seharusnya, sebelum kita bicara haji yang butuh biaya besar, kita perlu pikirkan dulu nasib sesama yang menderita.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

UMROH PROMO HEMAT
UMROH REGULER
PAKET HAJI PLUS